Santai Namun Menghasilkan

(Purwokerto – komunikasi.unsoed.ac.id )BELAJAR Bahasa Inggris dapat dilakukan secara menyenangkan. Salah satunya melalui debat. Mahasiswa ISIP Unsoed mulai menunjukkan kemampuannya di ajang Inter Faculty Debating Championship (IFDC) XIII. Ajang debat yang diadakan oleh Student English Forum (SEF), UKM Bahasa Inggris Universitas.

Sebuah pijakan baru diraih oleh tim oranye.  Beberapa orang menaruh harapan akan kemenangan ini. Melihat ISIP sebagai fakultas yang banyak belajar ilmu sosial. Motion dan struktur debat pastinya telah melekat di benak mahasiswa. 

“Sebagai kampus sosial memiliki harapan. Mahasiswa sebenarnya dikenal sering mengeluarkan aspirasi. Salah satu cara yaitu dengan debat. Namun, terkadang terkendala oleh bahasa,” ungkap Rizza Kumalasari, Presiden English Society of FISIP (ESOF), UKM Bahasa Inggris ISIP.

Bahasa Inggris seakan menjadi momok yang menakutkan. Sehingga kurang tajam dalam menganalisis permasalahan. Dengan debat, mahasiswa jurusan Komunikasi angkatan 2009 itu berharap mahasiswa lebih sensitif sekaligus memiliki analisis tajam.

Awareness perlu ditingkatkan lagi. Khususnya untuk menganggap penting bahasa Inggris. Rata-rata masalah karena masih kurang paham terhadap kebutuhan. Padahal, bahasa Inggris mampu membuat kita melihat situasi secara luas. Tidak hanya berkutat pada ranah lokal dan nasional saja,” tambahnya.

Menjadi runner up tidaklah mudah. Semua peserta memiliki ambisi untuk menang. Beberapa fakultas pun memiliki record tersendiri seperti Ekonomi, Hukum dan Medical. Ketiga fakultas tersebut sering menjadi langganan pemegang trophy.

 

Bagi Fisip, ini adalah kedua kalinya masuk final. Setelah menunggu selama beberapa tahun. Pada IFDC V, FISIP menjadi juara. Namun, meskipun tahun ini tidak menjadi juara setidaknya mampu memberikan semangat kemenangan.

“ Ini sudah memuaskan, karena diluar target. Tujuan hanya sampai quarter. Berarti sudah melampaui target. Tapi, jangan puas dahulu karena tahun depan masih ada lagi. Harus lebih baik dari sekarang,” ujar Rio Nurhasdy, coach debat.

Latihan selama dua bulan membuahkan hasil. Dengan slogan Kill or be killed dan santai, serius dan sukses mampu menjadi obat tersendiri. Tidak hanya itu, makanan cimol pun menemani hari-hari latihan mereka. Dan yang terpenting mereka merasakan kenyamanan dan kebersamaan.

“ Debat itu seru. Sama-sama belajar dan ada kebersamaan. Meskipun melelahkan tapi akan menyenangkan setelah melihat hasilnya. Kekurangan dari tim FISIP yaitu kurang membatah argumen lawan,” tutur debater IFDC XI ini.

Ada sebuah pepatah tak kenal maka tak sayang.  Ketika mampu mengimplementasikan sesuatu alangkah baiknya terlebih dahulu mengenal. Menyuarakan aspirasi, terlebih dahulu perlu mengenal permasalahannya. Perlu memahami urgency, futher impact, solution, status quo dan Implication.  Dan juga perlu memahami argument. Selamat berdebat.(Annisa Setya Hutami - Education Minister of ESOF/tna)