CATATAN PERJALANAN KKL MAHASISWA JURUSAN ILMU KOMUNIKASI ANGKATAN 2009 KE BALI

 

 

 (Purwokerto, komunikasi.unsoed.ac.id).

Welcome to Pulau Dewata....Setelah menempuh satu harian  penuh  perjalanan,akhirnya rombongan mahasiswa kuliah kerja lapangan ilmuKomunikasi FISIP Unsoed sampaijugadi pulau Bali. Kita tiba disana pagi hari dengan perasaan yang sangat bercampur aduk, mulai dari rasa senang sampai rasa lelah. Pulau Dewata yang menyuguhkan pesona alam yang indah ini membuat mahasiswa semakin penasaran terutama bagi yang baru pertama kali berkunjung ke Bali.

11 mei 2012 pukul 09.00.Kita sampai di tempat kunjungan petama yaitu pemerintah provinsi (pemprov) Bali. Dengan nuansa bangunan khas Bali, gedung pemprov ini sangat berbeda dengan gedung pemerintah lainnya dengan demikian kita pun masih dibuat takjub dengan gedungnya . Terdapat pure-pure kecil dan patung-patung  sebagai dekorasi khas Bali. Sesampainya di aula pemprov Bali kita disambut hangat oleh bagian biro humas pempov Bali yaitu bapak Ika Putra yang sekaligus sebagai pemapar materi dan staf-staf nya.

“Om swastiastu om....”sambutan hangat ini melekat sebelum bapak Ika Putra memberikan suatu materi mengenai strategi humas pemprov Bali kepada mahasiswa KKL. Materi yang diberikan yaitu mengenai penjelasan pulau Bali,  baik secara administratif maupun non administratif.  Fokus materi yang diberikan berkaitan dengan komunikasi pembangunan dan hubungan masyarakat. Kedua hal tersebut merupakan konsentrasi mata kuliah di jurusan ilmu Komunikasi Fisip Unsoed.

Materi yang disampaikan mengenai komunikasi pembangunan difokuskan mengenai pemamparan akan prioritas pembangunan di Bali. Mereka mempunyai beberapa program diantarnya penanggulangan  kemiskinan dan pengangguran, pendidikan, kesehatan, infrastruktur wilayah, lingkungan hidup & pengelolaan bencana, bencana&teknologi. Dll. Sedangkan materi yang dipaparkan mengenai humas lebih kepada penjelasan akan program dan kegiatan humas diantaranya layanan informasi, penyebarluasan informasi, Media informasi pembangunan, pendokumentasian, peningkatan kapasitas humas melalui workshop, peningkatan partisipasi masyarakat dalam sosialisasi program pembangunan, pemberitaan tabloid khusus Bali, penyuluhan bencana dan perundangan, dll.

Dengan kondisi yang masih terlihat lemas mahasiswa KKL tetap berusaha untuk menerima materi dengan baik. Terbukti ketika sesi tanya jawab mahasiswa KKL aktif bertanya walaupun yang mengajukan pertanyaannya dibatasi.Pemaparan yang menarik ini membuat kita memerolehpengetahuan akan program – program pemerintah yang dijalankan di Bali. Acara ini selesai sampai kira-kira pukul 11.00 WITA karena setelah acara ini akan dilangsungkan kunjungan kepresidenan ke pemprov Bali namun kita cukup puas akan pelayanan yang mereka berikan. Kita pun melanjutkan ke kunjungan institusi selanjutnya yaitu ke dewata TV.

Ke  Dewata TV

Dewata TV menjamu mahasiswa Ilmu Komunikasi dengan sebuah tour menjelajahi kantor redaksi. Rasa lelah setelah berhari-hari melakukan perjalanan menuju Bali terbayar sudah. Meskipun dari tadi kami sudah ribut ingin segera check-in ke hotel, namun mendapat kesempatan untuk menanyakan segala hal tentang dunia pertelevisian khususnya televisi lokal cukup menghapus sejenak rasa letih.

 Kami disambut oleh kru Dewata TV di sebuah aula besar. Lampu dipadamkan, slide powerpoint mulai ditayangkan untuk kami.Lembar demi lembar slide ditampilkan, tak henti-hentinya kami bertanya-tanya dalam hati, apa yang membuat Bali begitu harmonis. Sehingga media yang dinaungi oleh Kompas Gramedia ini pun tak begitu berani menunjukkan arahan politisnya. Mengudara sejak 24 November 2007 dengan siaran penuh mulai 1 Januari 2008, dewata TV ingin menjadi lembaga penyiaran berkualitas dan professional yang menyediakan informasi, pendidikan, dan hiburan yang memberikan pencerahan bagi masyarakat di Bali. Itulah yang terbaca di slide Latar Belakang.

Selesai sesi pemaparan, kami kemudian mengikuti Arif, salah satu kru Dewata TV ke ruang redaksi. Di sanalah salah seorang dari mahasiswamenanyakan apakah Dewata TV yang salah satunya memiliki misi berkontribusi bagi pembangunan demokrasi di Bali “hanya”turut menyukseskan Pemilukada? Bagaimana dengan fungsi kritik sosial? "Maksud dari kami turut menyukseskan Pemilukada adalah netral dengan calon manapun.Tapi bukan berarti takut pada pemerintah daerah. Kami sering mengajukan kritik pada Pemerintah Provinsi," ujar Arif.

Selanjutnya, di ruang redaksi Arif juga menjelaskan bahwa Pemerintah Provinsi Bali cukup responsif dengan isu-isu yang di-blow upawak media. Begitulah, Kru Dewata TV dengan sabar dan ramah melayani segala pertanyaan kami yang seolah-olah membanjiri area kantor. Hanya sekitar satu jam saja kami berada di Dewata TV. Memburu sunset, kami segera bertolak menuju Kuta. Namun setidaknya dahaga kami mengenai dunia televisi lokal terpuaskan sudah.

 

 

Dinas Pariwisata Daerah Bali

Dinas Pariwisata Daerah Bali adalah kunjungan terakhir kami. Karena kunjungan terakhir, banyak dari kami yang sudah lelah dan mengantuk ketika sampai di Dinas Pariwisata. Meskipun begitu, kami berusaha untuk tetap terjaga saat mendengarkan penjelasan oleh pembicara dari Dinas Pariwisata Daerah Bali, karena informasi tersebut sangat penting untuk diketahui bersama.

Sebelum berkunjung ke Kantor Dinas Pariwisata, kami melakukan kunjungan ke KPID Bali yang selesai kurang lebih pukul 12.00 WITA atau 11.00 WIB. Sambil menunggu waktu kunjungan ke Dinas Pariwisata yang dijadwalkan pukul dua siang waktu Indonesia Tengah, kami berkeliling di lahan terbuka hijau yang berada di seberang gedung Pemerintah Provinsi Bali dan Dinas Pariwisata. Tepat pukul 14.00 WITA atau 13.00 WIB pada tanggal 14 Mei 2012, pihak Dinas Parawisata Daerah Bali memulai presentasi mengenai kondisi Pulau Bali secara keseluruhan.

Dalam presentasinya, Bapak Drs. Nyoman Wardawan selaku Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata, menjelaskan bahwa Bali merupakan salah satu pulau kecil yang berada di antara pulau-pulau di Indonesia yang jumlahnya lebih dari 17.000 pulau. Bali terletak tepat di tengah-tengah antara Sabang sampai Merauke dengan luas 5.632,86 KM2 atau 0.29 % dari total luas Indonesia. Populasi penduduk Pulau Bali 3,5 juta jiwa, ditambah kunjungan wisatawan mancanegara 2.7 juta jiwa, wisatawan domestik 4.8 juta jiwa.

Visi pariwisata Bali adalah mewujudkan pariwisata yang berkualitas, berkelanjutan dan mempunyai daya saing menuju Bali Mandara, sedangkan misinya yakni pariwisata budaya berbasis kerakyatan, profesionalisme pengelolaan kepariwisataan dan pelayanan yang baik di bidang kepariwisataan.

Provinsi Bali memiliki keunikan dalam bidang geografis, yaitu gunung, lembah, danau, sungai, sampai pantai dengan aktivitas penduduknya yang berbeda-beda. Bali juga terkenal dengan sosial budayanya yang kuat dan keramahan penduduknya. Pilar yang dipegang kuat oleh Dinas Pariwisata Bali yakni Tri Hita Kirana, yaitu menjalin hubungan pada masyarakat, jurnalis, akademisi, industri dan pemerintah. Selain itu, di Bali sendiri, terdapat keyakinan yang dianut masyarakat akan penyebab kebahagiaan, yaitu hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan alam atau lingkungan, dan terakhir hubungan dengan sesama manusia.

Provinsi Bali memiliki alam yang menakjubkan, budaya yang unik, manusia yang kreatif (ditandai dengan banyaknya seniman-seniman), nilai-nilai filosofis sebagai kearifan lokal, serta kuliner yang beragam. Kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh Bali ini menjadi daya tarik yang kuat bagi para wisatawan domestik maupun mancanegara.

Pulau Bali, seperti dikatakan oleh Bapak Nyoman Wardawan, seringkali mendapatkan penghargaan sebagai “The Best Island in The World” yang unggul pada alam dan aktivitas luar, seni dan budaya, akomodasi, dan biaya hidupnya. Oleh karena itu, Dinas Pariwisata Bali melakukan beberapa upaya untuk melakukan pelestarian budaya, misalnya Pagelaran Pesta Kesenian Bali, pendirian Sekolah Institut Seni Indonesia, Kompetisi antar Desa Adat, Pemberdayaan Organisasi Tradisional (Subak, Desa Adat, Sekehe Teruna Teruni, Paguyuban Seni), pemberian Penghargaan kepada Seniman Bali yang berprestasi.

Di akhir presentasi, Bapak Nyoman Wardawan memberikan waktu kepada kami untuk mengajukan pertanyaan seputar pariwisata Bali. Beberapa dari kami pun mengajukan pertanyaan yang berkenaan dengan budaya, tata letak kota, dan pembangunan pariwisata Bali. Kami cukup puas dengan penyajian presentasi oleh Dinas Pariwisata yang terkesan santai karena selalu diselingi oleh gurauan dari Bapak Wardawan. Semoga di lain waktu, kami dapat kembali berkunjung ke Bali dan menikmati wisata-wisata yang disediakan oleh Dinas Pariwisata. (asta/iyan/tna)