Kearifan Lokal dari Segi Etnografi

 

Dalam hajatan Seminar Nasional yang diselenggarakan komunikasi pada hari Rabu, 26 September 2012 lalu, tak hanya mendatangkan pemakalah dan pembicara saja, namun juga menghadirkan Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi sebagai pembicara seminar.

Dr. Toto Sugito merupakan Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi yang memiliki wibawa sebagai sosok dosen yang selalu

menghargai waktu. Dosen yang patut dijadikan teladan ini membawakan materi mengenai bagaimana kearifan bisa direalisasi, bisa kita pahami. Berangkat dari pengalaman studi, salah satu metode yakni dengan etnografi.

Menurut beliau etnografi memberi peluang untuk memahami kemajemukan yang ada contohnya bagaimana kearifan itu dapat kita gali. Komunikasi itu merupakan proses belajar dan mengahargai orang lain. Melalui etnografi, kita belajar mengenai apa yang dirasakan oleh objek yang kita teliti. Dengan melakukan penelitian tersebut, maka akan memunculkan sifat empati kita dengan bagaimana kita dapat memaknai peristiwa itu sendiri.

Indonesia merupakan negara yang memiliki ragam budaya dengan kearifan lokalnya masing-masing. Kita harus mengetahui kearifan lokal dari tempat di mana kita berada. Di dalam perbedaan itulah akan memunculkan pendewasaan. Pendewasaan itu sendiri dituntut pada dimana kita berada. Itulah proses belajar menurut Pak Toto.

Kearifan lokal muncul melalui marjinalisasi sejarah. Melalui etnografi, akan membuka wawasan kita mengenai kearifan lokal suatu daerah dengan beragai perbedaannya.

Salah satu daerah yang masing sangat menjunjung tinggi kearifan lokalnya hingga sekarang adalah sebuah komunitas kampung adat yang masih menggunakan cara gotong royong membangun rumah warga. Hal ini berbeda sekali dengan apa yang ada di daerah perkotaan. Bangunan rumah yang tinggi menjulang tak lagi dibangun dengan gotong royong oleh warganya, tetapi sudah di jual kepada developer yang ada.

Dengan etnografi, kita akan melakukan pendekatan dengan cara mempelajari, menghayati dan berempati. Sehingga kita tahu apa yang dirasakan oleh objek penderita. Melalui etnografi pulalah proses belajar berempati dipelajari.

Pencitraan dan kearifan lokal yang di pandang dari sisi etnografi ini memunculkan pertanyaan dari salah seorang peserta dari Universitas Jember. Ibu Sri Subekti namanya, beliau mengatakan bahwa kearifan lokal sudah banyak terkikis, bagaimana kita melestarikan gotong royong, misalnya mengerjakan lahan disawah yang sudah banyak diambil alih? Dari segi etnografi bisa menjelaskan kenapa budaya etnografi bisa dikikis. Sementara apabila gotong royong bisa dijalankan, Berapa APBN yang bisa kita dapatkan?

“Berdasarkan hasil pengamatan, ternyata yang saya amati adalah sebuah komunitas yang melestarikan gotong royong. Ada faktor yang melestarikan itu, apresiasi tokoh masyarakat. Bagaimana itu dilestarikan? Bisa karena semakin kesini orang semakin pragmatis, misalnya ada proyek pemerintah, contohnya pengairan sawah yang dulu dikerjakan bersama, kini sudah diambil alih. Komunitas di kampung dayak itu ada. Pemerintah tidak melihat kearifan lokal menjadi sesuatu yang penting, hanya masalah pembangunan dengan bantuan proyek pembangunan. Kearifan lokal mulai terkikis. Gaya hidup ini tidak sadar akan itu, lebih ke masalah uang. Komunitas adat harus dipertahankan, tinggal seberapa besar kita punya apresiasi”. Demikian Pak Toto menjawab  pertanyaan peserta seminar (VPM/AN/tna)