Bagaimana Mudahnya Informasi Dapat Diakses

 

Pagi hari yang cerah dengan berhambuarannya jaket almamater kuning di depan ruangan megah di Aula FISIP Unsoed. Tampilan yang rapi dan seragam semakin membuat pagi itu terlihat tidak biasa.

            Rabu, 26 Septemper 2012, itulah harinya. Hari dimana hajatan besar Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Unsoed dilangsungkan. Menyambut Dies ke-14nya, Ilmu Komunikasi mengadakan Seminar besar di hari itu. Seminar Nasional yang berjudul “Menggagas Pencitraan Berbasis Kearifan Lokal” di gelar di Aula FISIP Unsoed dengan tampilan berbeda.

            Tenda berwarna merah dan putih menyambut kedatangan seluruh peserta seminar. Dengan wajah ceria dan senyum indah, panitia menyambut kedatangan seluruh peserta. Memasuki ruang Aula yang megah, peserta di sambut oleh penjemput tamu yang ramah.

            Acara yang dilangsungkan pagi itu adalah Seminar Nasional yang diawali dengan tarian khas Banyumas yakni Bambangan Cakil dilanjutkan dengan sambutan dari Ibu Dwi Pangestuti selaku ketua SemNas dilanjutkan oleh sambuatan serta pembukaan acara oleh Rektor.

            Seminar yang diisi oleh empat pembicara dari berbagai profesi ini dimoderatori oleh Dr. Wisnu Widjanarko. Sama seperti nama moderator semnas tersebut, pembicara ketiga dalam Seminar Nasional “Menggagas Pencitraan Berbasis Kearifan Lokal” pun bernama Wisnu, namun Wisnu yang ini memimiliki nama lengkap Wisnu Martha Adiputra.SIP.,M.Si.

            Dalam seminar ini,  Wisnu Martha Adiputra menyampaikan mengenai bagaimana mudahnya informasi kini diakses masyarakat. Dalam presentasinya, beliau mengatakan bahwa informasi merupakan hal yang luar biasa. Dengan adanya multimedia, segala pengetahuan dapat di akses. Multimedia itu membuka cakrawala kita.

            Pencitraan dipandang sebagai sesuatu yang seolah-olah itu jelek. Seperti halnya globalisasi yang dianggap negatif, padahal globalisasi itu mengandung sisi positif seperti keterbukaan informasi publik, penghargaan atas perbedaan, dan lain sebagainya.

            Komunikasi itu bukanlah sekedar merasakan apa yang kita inginkan kepada orang lain, tapi berlaku juga sebaliknya. Komunikasi itu harus seimbang agar tidak berat sebelah. Dalam komunikasi internasional, kita ingin melihat bagaiamana komunikasi itu mempelajari perbedaan-perbedaan yang ada.

            Di era yang semakin berkembang ini, aktor dalam media bukanlah hanya pemerintah saja, masyarakat pun kini menjadi aktor. Masyarakat dapat mengakses media di berbagai tempat. Salah satu media baru yang membantu masyarakat mengakses informasi adalah internet. Bukan sekedar hiburan, internet menyajikan berbagai informasi yang patut kita perhatikan.

            Di Indonesia, ada sebuah kampung yang diberi nama kampung cyber. Kampung ini berada di salah satu wilayah di Jogjakarta yang sudah dikenal di mancanegara. Akses internet yang mudah ini bukan sekedar memberikan hiburan, di kampung tersebut seluruh warga menyebarkan informasi kepada masyarakat dengan media baru yang ada.

            Menurut pandangan beliau, setiap masyarakat memiliki kearifan lokal masing-masing, tinggal bagaimana kita dapat berinteraksi didalamnya itulah yang menjadi maslah. Perbedaan bukanlah menjadikan perpecahan, karena perbedaan itu penting dalam komunikasi. Kita berkomunikasi karena adanya perbedaan untuk mencapai kesamaan untuk itulah kita berinteraksi agar dapat saling menghargai perbedaan yang ada.

            Globalisasi dan kearifan lokal harus direkatkan. Sudah banyak pemahaman yang merekatkan lokalitas dan globalitas tersebut. Dengan adanya global village itu menciptakan pemahama mengenai penyatuan warga di dunia.

            Dengan adanya media baru, masyarakat global sudah mulai mengaktifkan partisipasinya dan memunculkan kesadaran audiens serta meningkatkan pemikiran kritis yang positif.

            Itulah hal-hal yang disampaikan oleh Wisnu M Adiputra dalam seminar nasional jurusan ilmu komunikasi. Seorang peserta dari Universitas Sulawesi Selatan memberikan sebuah pertanyaan kepada beliau mengenai bagaimana hadirnya Jokowi yang hadir dengan kearifan lokalnya dan media dapat menggambarkannya dengan baik.

            Dengan tenang,  Wisnu M Adiputra memberikan jawaban bahwa cara tokoh mencitrakan dirinya bukan hanya Jokowi, Obama juga melakukan hal tersebut. Jokowi menggunakan cara yang unik. Media tidak mengambil mentah-mentah untuk pencitraan sesuatu hal. Jokowi juga memiliki track record yang bagus sehingga media dapat menggambarkan sosok Jokowi dengan baik.

            Pertanyaan kedua untuk  Wisnu M Adiputra muncul dari wakil Universitas Mercubuana yang bernama Diki Andika.

“Tentang kearifan, penyamarataan budaya, budaya kita adalah budaya media, kemasan lokal akan laku bila dikemas melalui media. Bagaimana pendapat Bapak mengenai penyamarataan budaya ini? Kita kadang menggagap orang itu asing jika mempertahankan budayanya, bagaimana menurut Bapak kalau kita bertahan dengan kearifan lokal malah jadi diasingkan kelompok kita sendiri?”, tanyanya.

Dari sudut pandang seorang dosen komunikasi internasional, belau menjawab, “Globalisasi tidak hanya membuat budaya barat, sekarang sudah ke Korea, Jepang. Kita hanya mengikuti budaya luar, dari sisi komunikasi internasional, fenomena itu luar biasa, meruntuhkan tata informasi media baru. Sekarang pelan-pelan sudah terkikis mengenai sesuatu yang tidak seimbang. Komunikasi internasional bukan mementingkan perbedaan itu, tapi juga bagaimana menghargai fenomena itu. Bagaimana komunikasi menghargai perbedaan”.(AN/VPM/tna)