FALSAFAH BUDAYA DALAM PENCITRAAN

Falsafah itu apa? Falsafah (Filsafat) adalah : Pengantar Hikmah ; Sistem Hakikat ; Sinoptik Eksistensial ;Pandangan Hidup ; Induk segala Pengetahuan

 

Pencitraan itu apa? Contoh : Ungkapan SRI GUNUNG – SRI TAMAN Korelasi “Pasuryan”, Format Jari-jemari serta Sistem “Sambat Sebut” /Predicabilia.

Identifikasi Diri Ingat Prinsipium Identitatis ; Principium Contradictionis ; Principium Exclusi Tertii ;Pr. Ratio Sufficientis, Principium Exemplaris. Juga Ordo Gognoscendi, Ordo Fiendi, Ordo Essndi, Ordo Agend;

Contoh lainnya ialah Transformai/Posisi Diri dari SOMA CITRA menjadi Kusumowicitra atau Nafsu Amarah, N. luwamah, N. Muthmainah.

Sitra Diri itu Nampak pada berbagai takrif tentang Jat-Diri sebagaimana tersirat pada terminology : Animal Rationale ; Animal Symbolicum

Falsafah Budaya dalam Pencitraan mendorong Manusia Indonesia untuk mencapai kesempurnaan makrifat atas dirinya sesuai dengan anjuran terkenal Socrates, yakni GNOTMI SEAUTON, seperti yang tersirat pada epitaph seseorang, misalnya :

Pada makam Immanuel Kant   : Cellum stelatum supra me,

                                                  Lex moralis intra me;

Newton            : Nature and the nature’s law lay hid in night/ God said : Let Newton be/        And all was light;

Sosrokartono   : Sugih tanpa bandha;

              Menang tanpa ngasorake;

              Nglurug tanpa bala ; Sekti tanpa Aji ;

              Trimah mawi Pasrah;

              Anteng mantheng;

              Sugeng jeneng;

Demikianlah seharusnya manusia tidak berhenti pada ungkapan sepotong MENS SANA IN CORPORE SANO, melainkan mencakup keseluruhannya, yakni :

            ORANDUM EST UT SUIT  : Mens sana in corpora sano.

Mengapa Iblis Ingkar? Pertama karena logika yang terbalik & sombong :

“Aku itu api ; sementara yang benar Api itu meng-aku “Aku”; Iblis korup ketika melihat Manusia, yakni Sekedar TANAM, padahal yang benar TANAM plus dan plus. Plus pertama yaitu karunia NAMA NAMA BENDA, sementara plus kedua justru TIUPAN RUH dari sisi-Nya. Itulah makna IMAGO DEI serta ANIMA MUNDI

            Menggagas Pencitraan Berbasis Kearifan Lokal // Asa Tri-Kon ki HAJAR DEWANTARA (Konsentris-Konvergen dan Kontinu), BANGSA INDONESIA mencerna Ramayana karya Walmiki, lambang libido sexualis, dan MAHA BARATA/Brata-yudha, lambang libido mortalis, namun tanpa melupakan WULUCUMBU (Semar, Gareng, Petruk dan BAGONG)., sambil menyongsong jumenengarnya RATU ADIL :

 

Ratu adil kaping telu *)

Dereng kalampahan mangkin

Taksih kirang gangsal jaman

Tetepira angidaki

Saking pangandika nata

Nanging jaman wuri-wuri

 

Ilang kaelokanipun

Karana sagunging janmi

 

Amung mbujeng kalahiran

Tan wonten nedya martapi

Ngegungaken suka suka

Nengenaken sangga-runggi

 

                                                                                    Purwokerto, 25-9-2012

                                                                                    Prof. DR. Damardjati Supadjar

                                                                                               

 

*)  Gambar miringnya/wayangnya

            “Ratu Adil” itu adalah

            Prabu Darmokusumo, yakni

raja tanpa mahkota, melainkan

memakai udheng/mudheng, yang

di dalamnya tersimpan layang

kalimasada (kalimah syahadat,

dan berdarah putih( : tidak

punya apa-apa, termauk tidak

punya “rasa punya/”Inna lil-Lahi

wa ina ilaihi roji’un