SEMINAR NASIONAL HUMAS 2012

SEMINAR NASIONAL HUMAS 2012

 

Menggagas Pencitraan Berbasis Kearifan Lokal

Latar Belakang:

Kekuatan opini publik, dan pencitraan dalam mengangkat dan menjatuhkan reputasi produk, seseorang ataupun lembaga saat ini sudah tidak diragukan lagi. Bahkan, dalam beberapa kasus orang hampir meyakini bahwa bukan lagi kualitas produk, orang, atau lembaga yang membuat produk tersebut laku di pasaran, membuat seseorang sukses dalam sebuah pemilihan, dan membuat sebuah lembaga atau perusahaan disukai dan memiliki banyak costumers, melainkan pencitraan.

Citra sejatinya adalah kesan yang timbul atau diberikan orang lain terhadap produk, layanan, atau perusahaan kita. Namun, ketika citra diyakini memiliki peran yang signifikan dalam menentukan keberhasilan sesuatu atau seseorang maka citra tidak lagi dibiarkan muncul secara alami melainkan dibentuk melalui sebuah upaya pencitraan (image building). Kini, tidak  hanya lembaga, perusahaan, atau produsen barang dan jasa yang berkutat dengan pencitraan, individu yang berkepentingan dengan dukungan publik pun tidak mau ketinggalan dalam melakukan pencitraan.

Permasalahannya kemudian, kerap terjadi mereka yang melakukan pencitraan kemudian terjebak hanya pada upaya untuk membuat diri, produk, lembaga mereka sekedar kelihatan baik di hadapan publik. Akibatnya, ketika publik menyadari bahwa apa yang mereka peroleh dan pilih tidaklah sebaik apa yang mereka lihat, maka tujuan akhir pencitraan yaitu untuk mendapatkan goodwill dari publik tidak tercapai. Sebaliknya, publik menjadi apriori dan memaknai pencitraan hanya sebagai manipulasi dan kaumflase semata.

Bertolak dari fenomena tesebut, maka diperlukan sebuah upaya untuk menggagas pencitraan yang tidak semata-mata dilakukan untuk membuat sesuatu atau seseorang kelihatan baik,  melainkan membuat orang lain menyadari dan memberikan kesan baik terhadap sesuatu yang memang baik. Mengintegrasikan kearifan lokal ke dalam kegiatan pencitraan merupakan salah satu alternatif yang bisa dilakukan.

Kearifan lokal dipahami sebagai gagasan-gagasan lokal yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, bernilai baik, yang tertanam dan diikuti oleh anggota masyarakatnya. Kearifan lokal dalam masyarakat dapat berbentuk nilai-nilai kejujuran, kebersamaan, integritas, norma, etika, kepercayaan, adat-istiadat, dan sebagainya. Dengan berbasis pada nilai-nilai tersebut maka upaya pencitraan diharapkan tidak lagi terjebak pada sekedar kamuflase, sekedar membuat karung yang bagus untuk membawa kucing buduk di dalamnya.

Upaya menggagas pencitraan yang demikian bukanlah hal yang mudah. Diperlukan kontribusi pemikiran secara interdisipliner. Sehingga semua stakeholders yang berkepentingan dengan pencitraan, mulai dari unsur pemerintah, politisi, dunia usaha, praktisi media, humas, periklanan, akademisi, budayawan dan ahli bahasa,  bisa duduk bersama dan memberi solusi cerdas dalam membangun citra positif bagi pencitraan itu sendiri.

 

Sub-Tema:

·         Kearifan lokal  dalam pencitraan institusi pemerintah

·         Mengembangkan strategi  kehumasan berbasis kearifan lokal

·         Bahasa dan budaya dalam pencitraan

·         Membangun media berbasis kearifan lokal

·         Mengintegrasikan nilai-nilai lokal dalam periklanan

·         Komunikasi politik dan diplomasi berbasis kearifan lokal