Praktikum Fotografi Membidik Ecotourism,Local Economy dan Cultural Heritage di Banyumas dan Sekitarnya

Memasuki minggu terakhir perkuliahan semester ini, mahasiswa komunikasi Unsoed harus bergegas memburu moment mengalahkan cuaca yang senantiasa hujan demi menghasilkan proyek Foto Story terkait dengan praktikum fotografi.  Para mahasiswa yang terbagi dalam sembilan kelompok masing-masing beranggotakan 7 sampai 8 orang ini diwajibkan menghasilkan tiga liputan fotografi dalam setiap kelompoknya, yang dikemas dalam foto story dengan mengangkat tema wisata lingkungan(Ecotourism), aktivitas ekonomi lokal(Local Economy)  dan warisan budaya (Cultural Heritage ) di Banyumas dan sekitarnya.  

Menurut Eko Nugroho dan Anisa selaku asisten praktikum  mata kuliah Fotografi, berdasarkan tema yang sudah masuk ada yang mengangkat ecowisata Goa Lawa, Batur Agung, Curug Cipendok, Bendung Gerak Serayu, Curug Gemawang; sementara yang mengambil lokasi di Cilacap di antaranya Pantai Nusakambangan, Pantai Selok Cilacap.  Kemudian tema ekonomi lokal yang digarap di antaranya adalah produksi Jenang Jaket, pembuatan wayang kulit, produksi gula merah, distribusi sayur mayur,pabrik bihun, dan mendoan. Sedangkan  situs Batur Bedil, Kalibacin, Srandil ,Masjid Saka Tunggal, Masjid Sulaiman, Benteng Pendem, Pura di Somagede adalah sebagian tema cultural heritage yang dijadikan proyek.

Ditemui di meja kerjanya disela-sela kesibukan mengoreksi paper tugas kuliahnya, Tri Nugroho Adi,M.Si pengampu mata kulilah Fotografi memberi penjelasan seputar praktikum fotografi ini. Berikut petikan dialog di suatu sore  Selasa (18/12) kemarin :

-          Ecotourism,Local Economy dan Cultural Heritage.Mengapa tema ini yang dipilih pak?

= Ya karena melalui tiga tema itulah kita bisa mencoba mengidentifikasikan potensi apa yang dimiliki Banyumas dan mudah-mudahnya hasilnya nanti menjadi semacam cetak biru pengembangan potensi lokal di Banyumas. Kita yang di Banyumas sering mengklaim sebagai daerah yang punya potensi dari segi pariwisata dll, tapi banyak yang dari kita malah belum tahu lokasi itu seperti apa, potensi sesungguhnya bagaimana dst.

-          Masih dikaitkan dengan visi misi lembaga kah?

=Betul. Dalam semua aktivitas perkuliahan, khususnya yang saya tangani adalah praktikum maka capaian kompetensi mata kuliah senantiasa dikaitkan dengan upaya lembaga dalam hal ini jurusan iIlmu Komunikasi untuk membumikan visi misi universitas dalam pengembangan sumber daya pedesaan dan potensi kearifan lokal.

-          Bedanya dengan praktikum Sinematografi yang konon juga mengangkat tema yang hampir sama apa pak?

= Yang utama tentu di kompetensi dasarnya. Kemampuan berkarya dalam sinematografi khususnya dalam hal ini pembuatan film dokumenter  dan kemampuan fotografi jurnalistik. Keduanya sama-sama melatih berkerja dalam teamwork. Dari sisi substansi output sinematografi kumpulan  videografi jurusan; sementara dalam fotografi nantinya output praktikum ini menjadi bahan baku untuk diterbitkan dalam semacam publikasi majalah budaya dan pariwisata. Tapi ini memang masih embrio ya... prosesnya panjang dan membutuhkan sinergi dengan kompetensi yang diperoleh dari praktikum mata kuliah lannya.

-          Yang terakhir pak, setelah praktikum selesai apakah cukup sampai di sini proyek fotografi ini pak?

 

= Ya semoga saja tidak, nanti sambil berproses teman-teman  mahasiswa bisa mengembangkan kompetensinya dalam fotografi jurnalistik melalui kegiatan di UKM Fotografi Fisip(Refleksi)  atau kalau tertarik magangnya bisa ke media cetak, tapi setidaknya frame mereka sudah “masuk”. Jadi ada karakteristik yang membedakan alumni komunikasi dengan komunikasi dari universitas lain. 

(kom/049)