PORTRAIT

Filmologi merupakan salah satu mata kuliah di Jurusan Ilmu Komunikasi Unsoed yang dapat dikatakan sebagai oase ditengah berbagai mata kuliah teori-teori ilmu komunikasi yang banyak membuat mahasiswa mengernyitkan kening kepala. Disebut oase karena dalam perkuliahan – setidaknya dalam benak kebanyakan mahasiswa yang mengambil mata kuliah filmologi – akan lebih banyak diisi dengan praktikum, yang akan membuat perkuliahan cenderung berlangsung di luar kelas atau di lapangan yang tentunya menyegarkan otak. Bagi saya yang merupakan mahasiswa angkatan 2008, filmologi adalah mata kuliah pilihan yang dapat diambil pada semester genap tepatnya semester 6. Mata kuliah praktikum bagi setiap mahasiswa – menurut saya – merupakan kuliah yang menyenangkan. Secara sadar ketika akan mengambil kuliah filmologi ini dalam benak saya tertanam bahwa selama perkuliahan berlangsung mahasiswa akan belajar segala sesuatu tentang perfilman dan tentu saja akan mendapat tugas untuk membuat film.

 

Benar saja, ketika perkuliahan filmologi telah memasuki paruh terakhir semester (masa perkuliahan setelah UTS) saya mendengar kabar bahwa mahasiswa yang mengambil mata kuliah filmologi mendapat tugas untuk membuat film pendek. Mahasiswa diberi kebebasan untuk memilih film fiksi atau film dokumenter untuk tugas tersebut tetapi durasi yang diberikan tidak lebih dari 15 menit. Untuk itu mahasiswa diminta untuk membentuk kelompok yang terdiri dari 8 orang. Nanda Ardi Nugroho, Adip Nindyo, Desy Setianti, Vinda Dinar, Irfan Budi, Fery Dimas, Robert Parasian, dan saya Dhoni Pramudito bergabung membentuk kelompok guna memproduksi film pendek tersebut. Saat berkumpul untuk membahas akan membuat film pendek seperti apa kami kebingungan karena tidak satu pun dari anggota kelompok yang pernah membuat film pendek sebelumnya, dan hanya tahu dasar dalam produksi sebuah film yang diajarkan dalam perkuliahan filmologi. Ketika kami kembali berkumpul pun hanya memutuskan untuk membuat film fiksi daripada film dokumenter, karena kami berpikir jika akan membuat film dokumenter, sebelumnya kami harus melakukan riset yang mendalam terhadap apa yang akan kami angkat dalam sebuah film pendek. Kelompok kami merasa itu akan banyak menghabiskan waktu. Sempat terpikir dalam kelompok kami akan mengambil lokasi syuting di Bali karena kebetulan dalam waktu dekat angkatan 2008 akan melaksanakan Kuliah Kerja Lapangan di Pulau Dewata, tetapi hal itu tidak terwujud karena hingga pelaksanaan KKL kami belum juga memiliki ide cerita untuk dibuat ke dalam sebuah film pendek.

Selesai pelaksanaan KKL pada akhir bulan Mei 2011, kami berinisiatif agar masing-masing anggota memikirkan sebuah ide cerita untuk dibuat menjadi film pendek mengingat jadwal pengumpulan tugas sudah semakin dekat dan kami mendapat kabar bahwa tugas film pendek yang akan dibuat akan diikut sertakan ke dalam lomba film pendek dalam rangka Dies Natalis Jurusan Ilmu Komunikasi Unsoed ke-13 dengan tema Kearifan Lokal. Tema yang makin memusingkan untuk dibuat cerita. Sebelumnya kami telah memutuskan untuk membuat film fiksi dan menyadari jika akan membuat film fiksi paling tidak harus memiliki cerita yang menarik agar tidak “garing”. Masing-masing dari kami memberikan ide cerita untuk diangkat dan akhirnya sepakat untuk mengangkat sebuah cerita dengan ide dasar mengaburkan batas antara fiksi dengan realitas.

Menurut saya sebuah cerita selalu menarik apabila dimulai dengan “What if...”, dan hal itulah yang terapkan dalam membuat cerita untuk film pendek pertama karya kami, “bagaimana jika seorang penulis novel bertemu dengan karakter yang ia tulis”. Cerita berkembang dengan memunculkan karakter bernama Roberto yang diperankan oleh Robert Parasian. Roberto adalah mahasiswa yang memiliki hobi fotografi yang begitu dicintainya. Untuk menunjang hobinya ia bekerja paruh waktu pada sebuah warung makan. Mengumpulkan hasil bekerjanya untuk membeli kamera. Di sisi lain Roberto memiliki seorang teman perempuan yaitu Sagita yang diperankan Nurin Swastiningrum, dan Roberto diam-diam memiliki perasaan cinta terhadap Sagita. Melalui hobi fotografinya Roberto hendak memberi surprise kepada Sagita yang tanpa sepengetahuan Roberto sedang mengidap sakit keras dan telah divonis dokter bahwa hidupnya sudah tidak lama lagi.

Di sisi kota lainnya terdapat seorang penulis bernama Pramudito Dhoni diperankan oleh saya sendiri. Ia sedang mengerjakan novel terbarunya dengan judul Sagita. Tanpa ia sadari ternyata apa yang ditulis dalam novelnya menjadi kenyataan dan kisah yang ia tulis adalah kehidupan Roberto dan Sagita. Roberto pun tidak menyadari hingga ia sendiri terkejut setelah membca novel Sagita yang baru dirilis karangan Pramudito Dhoni.

“PORTRAIT” dipilih menjadi judul dari film pendek yang kami produksi. Film pendek ini disutradarai oleh Adip Nindyo. Untuk pengembangan skenario dan narasi dikerjakan oleh Nanda Ardi dan Adip Nindyo. Untuk menunjang dalam proses pembuatan film masing-masing anggota kelompok mendapat bagian sebagai kru film dan ada yang merangkap ke bagian lain karena jumlah anggota yang hanya 8 mahasiswa. Nanda Ardi (story board, camera person & penyunting gambar), Adip Nindyo (Sutradara, Narasi & Penyunting Gambar), Desy Setianti (Penata Rias), Vinda Dinar (Kostum), Irfan Budi (Penyunting Gambar), Fery Dimas (Peralatan), Dhoni Pramudito (Pemeran Penulis) & Robert Parasian (Pemeran Roberto). Di luar kelompok dalam produksi film “Portrait” membantu untuk berperan mengisi karakter dalam film. Mereka adalah Nurin Swastiningrum (Sagita), Nursita Yuliana (Pemilik warung makan) dan Gilang Ikrama (Marko), kesemuanya merupakan teman-teman kuliah di Ilmu Komunikasi Unsoed.

Dalam proses syuting yang mengambil lokasi syuting di Taman Andhang Pangrenan kami menemui banyak hal menarik untuk dimasukkan ke dalam film, seperti ada penyewaan sepeda tandem. Sebenarnya tidak ada rencana untuk syuting dengan properti tersebut dan merupakan ide dadakan untuk menambah scene. Jujur saja selama proses syuting banyak muncul ide dadakan karena film pendek harus selesai hanya dalam waktu 1 minggu sudah termasuk proses penyuntingan gambar. Batas akhir pengumpulan film adalah tanggal 4 Juni 2011, sedangkan syuting Portrait sendiri baru dimulai tanggal 31 Mei 2011 dan dalam jadwal yang dibuat syuting harus selesai pada tanggal 2 Juni 2011 agar memiliki cukup waktu untuk penyuntingan gambar. Hal yang sebenarnya tidak ideal untuk menyelesaikan sebuah film.

Terdapat hal menarik lainnya saat proses syuting yang sempat membuat kaget, yaitu ketika sedang mengecek gambar yang diambil pada scene Roberto membeli kamera kepada Marko. Pada scene yang telah diambil ternyata Marko (Gilang) terlihat ceria padahal seharusnya ia terlihat berat hati dan sedih karena harus menjual kamera demi pengobatan ayahnya yang sakit seperti yang terdapat dalam skenario. Akan dilakukan take ulang tetapi Gilang pemeran Marko sudah meninggalkan lokasi syuting karena ada urusan lain, sehingga sepakat untuk mengubah narasi film yang digunakan.

Hambatan yang paling mendasar dalam proses syuting adalah keterbatasan lighting, karena dalam syuting menggunakan kamera DSLR untuk menyiasati keterbatasan lighting digunakanlah styrofoam yang dilapisi dengan kertas kado mengkilat untuk memantulkan cahaya matahari. Hal itu digunakan untuk proses pengambilan gambar outdoor agar muka dari pemeran dapat terlihat jelas tertangkap kamera karena kebanyakan syuting outdoor dilakukan pada siang hari dengan kerasnya cahaya matahari yang bila tidak digunakan alat pantul cahaya maka muka dari pemeran terdapat bayangan yang mengganggu. Terbatasnya waktu untuk syuting juga memaksa untuk mengambil gambar pada malam hari – yang pada awalnya tidak ada jadwal syuting malam hari – yaitu, scene ketika Roberto membaca novel Sagita. Sekali lagi hal yang ditakutkan adalah lighting untuk malam hari. Akhirnya digunakan lampu belajar untuk lighting. Walaupun cahaya yang dihasilkan kasar dan menimbulkan bayangan di sana-sini kami merasa inilah hal yang terbaik untuk mendapatkan cahaya yang cukup.

Syuting tidak berjalan sesuai dengan yang sudah dijadwalkan, yang semula selesai pada tanggal 2 Juni 2011 ternyata hingga baru selesai pengambilan gambar terakhir pada tanggal 4 Juni 2011. Yang mana pada tanggal tersebut merupakan batas akhir pengumpulan karya. Saat syuting scene terakhir pada tanggal 4 Juni 2011 ini kami masih memiliki rasa optimis dapat mengumpulkan tepat waktu karena batas pengumpulan hingga pukul 16.00 dan syuting dilakukan pada pagi hari pukul 08.00.

Proses penyuntingan gambar sendiri sudah dilakukan sejak tanggal 1 Juni 2011. Walaupun baru memiliki beberapa scene tapi proses penyuntingan gambar harus sudah dimulai agar dapat selesai tepat waktu. Proses inilah sebenarnya yang menyita paling banyak waktu. Sampai harus begadang demi menyelesaikan film ini. Pada proses ini pula lah kami menemukan celah-celah kesalahan ketika mengambil gambar atau dalam istilah film “bloopers”. Ketika tersisa satu hari dari batas akhir pengumpulan film dan menyadari bahwa masih ada scene yang belum diambil, tim penyunting gambar bekerja hingga tidak tidur karena takut tidak dapat selesai tepat waktu. Saat scene terakhir diterima pada tanggal 4 Juni 2011, tim penyunting langsung bekerja mengedit scene tersebut. Masalah muncul kembali ketika editing telah selesai dan tinggal me-render-nya agar dapat diburn menjadi format DVD, waktu yang dibutuhkan adalah 4-5 jam karena file asli film (setelah editing) sangat besar hingga memakan sekitar 40 Gigabytes. Hal itu disebabkan karena penggunaan kamera DSLR menghasilkan file yang besar, untuk satu scene biasanya hingga 1-1,5 Gb. Sedangkan untuk dijadikan format DVD maksimal 6-7 Gb. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul 13.00.

Dengan energi yang sudah terkuras dan sudah kehilangan semangat karena waktu pengumpulan sudah sedikit tim penyunting memutuskan untuk beristirahat sembari menunggu proses render selesai. Singkatnya, waktu sudah tidak memungkinkan untuk mengumpulkan tepat waktu dan akhirnya kami mengumpulkan film Portrait pada tanggal 6 Juni 2011 dan sedikit bernafas lega karena masih diterima dan kelompok lain juga ada yang baru mengumpulkan pada tanggal tersebut.

Film “Portrait” untuk pertama kalinya ditayangkan dalam pemutaran film pendek pada Lomba Film Pendek dalam rangka Dies Natalies Komunikasi ke-13 di Aula Fisip Unsoed tanggal 9 Juni 2011. Ternyata film Portrait mendapat sambutan yang memuaskan bagi kami walaupun kami menyadari bahwa film Portrait tidak sesuai dengan tema yang ditetapkan dalam lomba yaitu kearifan lokal. Merasa puas dan kaget tentunya karena ternyata ada beberapa dari penonton yang menitihkan air mata menonton film kami. Hasil dari lomba tersebut yang diumumkan beberapa hari setelah pemutaran, Portrait hanya memperoleh juara Harapan 1. Namun tidak mempermasalahkan hal tersebut karena memang film tidak sesuai dengan tema.

Membuat film “Portrait” merupakan pengalaman pertama dan selama proses berlangsung hingga terselesaikan kami merasa puas dan senang. Setahun berselang atau 8 bulan yang lalu pada 8 Mei 2012, Nanda menunggah film “Portrait” ke youtube dan tidak ada maksud tertentu dibaliknya (link : http://www.youtube.com/watch?v=0-3UedPuj5w ). Niat awalnya hanya untuk ditonton bersama-sama karena hanya men-sharing ke teman-teman lewat akun sosial media masing-masing untuk ditonton bagi yang belum menonton. Ternyata setelah beberapa bulan setelah diunggah, saya iseng untuk mengecek berapa viewers film “Portrait” dan terkejut ternyata film sudah ditonton sekitar 700 lebih viewers. Saya memberi kabar tersebut ke Nanda dan ia tidak percaya hingga memeriksanya sendiri. Satu minggu kemudian dicek kembali dan meningkat hinggal lebih dari 1.000 viewers dan mendapati beberapa komentar yang menyenangkan. Hingga akhirnya pada Desember 2012 mendapat komentar dari perwakilan sebuah majalah digital “Wadah Kreatif Indonesia” yaitu Febby Irawan yang ingin mereview Portrait dan dimasukkan ke dalam majalah digital tersebut. Portrait masuk dalam majalah digital Wadah Kreatif Indonesia edisi ke 2, Januari 2013. Secara tidak langsung mendongkrak film pendek Portrait di youtube dan hingga tulisan ini dibuat jumlah viewers Portrait telah mencapai angka 6.700.

Jumlah viewers di youtube yang mencapai 6.700 semakin membuat kami merasa senang dan tentu saja mengejutkan karena dengan sedikitnya waktu untuk memproduksi film ini, hambatan-hambatan, celah-celah kesalahan teknis pada detail film dan lain sebagainya ternyata mendapat apresiasi yang positif. Hal ini sedikit banyak menggugah minat kami untuk membuat film lagi walaupun entah kapan untuk bisa merealisasikannya. Terima kasih atas apresiasi dan respon positif yang diberikan kepada karya film pendek kami “Portrait” (DP/tna)