SECOND CHANCE

Pilihan, akan selalu ada di tiap potongan kecil kisah eksistensi kita di dunia, akan selalu ada di sela-sela hela nafas saat kita memaknai suatu kejadian. Pilihan, membuat suatu pertentangan di dalam garis kehidupan kita yang ‘katanya’ sudah ditentukan. Pilihan, menantang keberanian kita dalam membuat suatu keputusan, menantang kecerdasan otak kita dalam menyikapi suatu peristiwa, dan hasil dari pilihan yang kita pilih akan menentukan bagaimana kita di masa depan.

Setiap manusia sudah pasti pernah dihadapkan pada sebuah pilihan, pilihan-pilihan besar seperti memilih jurusan yang akan diambil saat mendaftar kuliah, memilih pasangan hidup, memilih tempat bekerja setelah lulus kuliah, sampai ke pilihan-pilihan kecil nan sederhana seperti makanan apa yang akan kita santap untuk sarapan, pakaian seperti apa yang akan kita pakai untuk bepergian, dan masih banyak lagi pilihan-pilihan yang terkadang tidak disadari jika pilihan-pilihan itu terjadi di setiap detik kehidupan kita.

 

Keputusan yang kita ambil bisa saja menghasilkan bad ending maupun happy ending. Terkadang kita merasa puas dan bahagia ketika yang terjadi adalah happy ending, dan kecewa serta menyesal jika yang terjadi adalah bad ending. Terkadang apa yang menjadi happy ending untuk kita belum tentu dirasakan sama oleh orang lain, bahkan bisa dirasakan sebagai bad ending oleh orang lain. Pilihan-pilihan yang terjadi pada masing-masing orang dan keputusan-keputusan yang diambil saling berkaitan satu-sama lain, terkoneksi dengan rapih dan membentuk sebuah kesatuan peristiwa yang akan terjadi di masa mendatang, di tahun-tahun selanjutnya, bulan-bulan berikutnya, esok hari, beberapa jam kedepan, di beberapa menit dan detik kemudian. Saat yang terjadi adalah bad ending, terkadang muncul harapan-harapan seperti “andai aku punya kesempatan kedua untuk merubahnya”, “andai aku punya mesin waktu untuk kembali ke masa lalu, merubah keputusan yang aku ambil”, dan “andai saja aku mengikuti apa kata hati dan firasat yang muncul sesaat tadi”.

Ide-ide dan pemikiran di atas membuat saya dan kawan-kawan yang tergabung dalam sebuah wadah bernama Lingkar Biru Studios ingin mewujudkannya dalam sebuah karya film. Kami sendiri merupakan wadah belajar yang sampai saat ini melakukan kegiatan di bidang motion graphic baik videografi maupun sinematografi. Kami tergugah untuk membuat suatu karya dalam rangka mengikuti kompetisi film pendek yang diadakan oleh AXA Indonesia dan Cinemags Magazine, bernamakan “AXA SHORT MOVIE COMPETITON 2013”. Tema yang diusung dari kompetisi ini adalah “Saya Berani” dengan durasi maksimal tujuh menit. Kompetisi ini diikuti sebanyak 112 film dari seluruh Indonesia, yang kemudian akan diseleksi lagi oleh panitia pre-seleksi menjadi 15 finalis untuk memperebutkan enam kategori award yaitu:

-          The Best Movie

-          The Best Director

-          The Best Scenario

-          The Most Favorite Movie on Youtube

-          The Most Viewed Movie on Youtube

-          Axa Staff Choice

Lima belas film yang lolos ke tahap final akan di unggah oleh panitia untuk memperebutkan dua award kategori Youtube yang ditentukan oleh jumlah view dan like. Voting oleh Staff AXA Indonesia dilakukan untuk menentukan pemenang award kategori AXA Staff Choice. Penjurian untuk tiga award sisanya dilakukan oleh dua sineas yang sudah tidak asing lagi di industri film Indonesia yaitu Dennis Adhiswara (AADC, Jomblo, Ayat-Ayat Cinta, Sang Pencerah, Kick n Love)  dan Ifa Isfansyah (Sang Penari, Garuda Di Dadaku, 9 Summers 10 Autumns), dengan fokus penilaian pada aspek kualitas gambar, suara, dan ide cerita.

Film Second Chance ini sendiri bercerita tentang keberanian dalam membuat keputusan dan keberanian dalam menentukan pilihan. Setiap kejadian yang kita alami adalah rangkaian atas segala pilihan yang kita ambil sebelumnya. Ber-settingdi sebuah pemukiman, film ini memiliki beberapa karakter yang masing-masing memiliki kisahnya sendiri namun memiliki hubungan timbal balik. Cerita pertama adalah seorang kakak beradik yang hidupnya terancam karena hutang menumpuk sang kakak kepada seorang ”penguasa” (Big Boss) di pemukiman tempat mereka tinggal. Sang kakak mendapat ancaman dari Big Boss lewat telepon yang secara tidak sengaja dilihat oleh sang adik. Sang kakak diberi misi khusus oleh Big Boss sebagai ganti pelunasan hutang-hutangnya. Di sisi lain ada seorang perempuan yang harus memberanikan dirinya melakukan hal yang cukup berbahaya demi menolong ibunya yang sedang sakit. Dan karakter utama di film ini, sang adik, dihadapkan oleh sebuah pilihan yang membuatnya harus mengambil keputusan beresiko.

Proses pembuatan film ini memakan waktu satu bulan lebih, dari awal Mei sampai pertengahan Juni, dan bisa dibilang proses pembuatan yang “menegangkan”. Dengan anggota kru yang bisa dibilang minimalis (lima orang), tiap orang harus merangkap diberbagai posisi yang berbeda. Kru dipimpin oleh Ditia Adi Noerhuda yang duduk di kursi sutradara, lalu sisanya empat orang kru yaitu Carissa N Savitri (Produser, Camera Operator, Lighting, Make Up Artist dan Wardrobe), Herdiyanto Windrawan (Production Manager, Sound Recordist, Editor), Anang Firmansyah (Camera Operator, Lighting dan Sound Recordist), dan saya sendiri Nanda Ardi Nugroho (Scriptwriter, Storyboards, Director of Photography, Steadycam Operator, Editor, Music Score Composer), kami berlima berasal dari jurusan yang sama, Ilmu Komunikasi Unsoed.

Di bagian pemeran, ada lima orang yang juga mahasiswa Fisip Unsoed yaitu, Rizky Nasution (Penjambret) dan Uray Shyta Damayanti (Mahasiswi) - Hubungan Internasional, Rizky Sanjaya (Adik) – Ilmu Komunikasi, Bagus Muchamdani (Abang) - Sosiologi, Yudho Kusumo (Pengantar Paket) – Administrasi Negara, satu orang dari pegiat musik Indie Purwokerto - Rahadian Descond Karunia (Big Boss), dan dua orang lagi merupakan warga yang bertempat tinggal di daerah tempat kami shooting, yaitu Ahmad Sukino (Pemegang Kopi) dan Kinah (Korban Jambret).

Masa pra-produksi memakan waktu paling lama disini, karena kami sudah mulai menggodok  konsep dari awal Mei, bisa dibilang masa pra-produksi kita hampir satu bulan sendiri. Karena adanya perbedaan visi pada saat menentukan konsep, kami bahkan sampai harus berangkat ke Jogja untuk mengikuti workshop yang diadakan oleh panitia AXA yang juga merupakan rangkaian acara kompetisi film ini. Kami mengikuti  workshop tersebut untuk mendapatkan info yang lebih detail mengenai tema kompetisi film ini. Ada kejadian yang menarik dan akan selalu kami ingat ketika kami berada di workshop Jogja pada waktu itu. Saat sesi tanya jawab, sutradara kami mengajukan pertanyaan pada Ifa Isfansyah yang menjadi pembicara pada saat itu. Saat menyebutkan nama, asal kota dan universitas, seketika suasana tempat acara tersebut menjadi hening sesaat…lalu terdengar tawa-tawa kecil mengggelitik dari beberapa peserta workshop. Saya, Herdi, dan Anang yang saat itu duduk berjejer di barisan tengah lalu saling melihat satu sama lain, tersenyum heran yang mungkin kalau dibahasakan dengan kata-kata bisa jadi seperti ini “Asem..deneng pada ngguyu sih?”. Ditia dan Carissa yang saat itu duduk di baris paling depan juga menengok kearah kami bertiga, tersenyum kecil dan mungkin memiliki pikiran yang sama. Haha..benar-benar kejadian yang mungkin akan selalu kami ingat. Seakan mendapat “pencerahan” dari workshop tersebut, sepulang dari Jogja kami langsung melanjutkan proses penggodokan konsep.

Masa pra-produksi yang cukup menguras tenaga dan pikiran akhirnya bisa diselesaikan, naskah sudah matang, storyboard sudah siap pakai, dan schedule sudah kami susun dengan rapih, waktunya lanjut ke proses produksi. Proses produksi kami dimulai di awal bulan Juni, yang berarti batas waktu kami hingga tanggal pengumpulan tinggal 2 minggu lagi, mengingat batas waktu pengiriman karya adalah tanggal 16 Juni 2013. Di masa produksi inilah yang benar-benar menegangkan, karena schedule yang sudah kami susun ternyata meleset jauh dari apa yang sudah direncanakan. Kami harus “bertarung” dengan cuaca yang pada saat itu tidak kondusif dan kesibukan masing-masing talent yang membuat produksi masih harus dilakukan hingga hari H batas waktu pengiriman, ya..di tanggal 16 Juni kami masih melakukan proses produksi terakhir, dan mau tidak mau harus selesai pada hari itu juga. Selain itu karena kru yang minimalis, kami harus merangkap berbagai posisi bahkan mengisi pos kosong yang saat itu sedang ditinggal oleh kru yang berhalangan ikut proses produksi. Untungnya kami sudah menyicil proses paska produksi setiap selesai take gambar. Bisa dibilang proses produksi dan paska produksi harus dilakukan secara bersamaan. Memang bukan hal yang ideal dalam proses pembuatan film melakukan dua proses tersebut secara bersamaan, namun kami harus bertindak efisien untuk mengakali sisa waktu yang tinggal sedikit. Proses editing final yang cukup singkat dan perasaan yang berdebar-debar, akhirnya pada hari H malamnya, film bisa selesai dan siap dikirim ke Jakarta.

Akhir bulan Juni menjadi momen yang menggembirakan bagi kami, 15 finalis yang lolos seleksi diumumkan lewat website Cinemags dan diunggah ke Youtube. Selama satu minggu, kelimabelas finalis tersebut memperebutkan dua award Youtube yang disediakan oleh panitia hingga waktu penutupan voting yaitu tanggal 1 Juli. Malam Awarding diadakan tanggal 4 Juli 2013, namun sayangnya undangan dari panitia hanya berlaku untuk dua orang perwakilan saja, dan diputuskan bahwa saya dan Ditia yang harus berangkat ke Jakarta.

Malam itu kami berdua hadir, meski agak terlambat namun pengumuman belum dilakukan. Satu persatu penghargaan sudah dibacakan, dari AXA Staff Choice hingga The Best Scenario, praktis tinggal dua penghargaan lagi yang belum dibacakan. Waktunya tiba untuk pembacaan penghargaan The Best Director, dipresentasikan oleh Ringgo Agus Rahman, “Dan yang memenangkan award di kategori Best Director adalah… SECOND CHANCE!” Kami tersenyum dan naik ke atas panggung.

Alhamdulillah jerih payah kami terbayar, cukup menyerap peluh, kerutan wajah sirna, senyum panjang terurai, bukan terlena dalam luapan euforia,  tetapi tergugah untuk kembali berkarya. Terimakasih atas segala apresiasi, segala respon baik positif maupun negatif untuk karya kami.

Salam, dan tetap berkarya J

(Nanda AN/tna)