MENYADARKAN PEDULI LINGKUNGAN MELALUI FILM

TPA Gunung Tugel,Desa Kedungrandu, Kecamatan Patikraja, Kabupaten BanyumasMasalah sampah yang sering terjadi di daerah perkotaan adalah penumpukan timbunan sampah yang dihasilkan dari aktivitas penduduk. Peningkatan volume sampah ini menyebabkan kebutuhan lahan penimbunan di TPA semakin meningkat. Tempat pembuangan akhir sampah (TPA ) merupakan permasalahan besar di banyak kota di Indonesia. Begitupun dengan TPA Gunung Tugel yang berada di Desa Kedungrandu, Kecamatan Patikraja, Kabupaten Banyumas. Tempat pembuangan akhir  ( TPA) Gunung Tugel ini mempunyai luas 5 hektar. Pengelolaan TPA yang baik menjadi unsur penting, tanpa pengelolaan yang tepat, TPA dapat menjadi potensi bahaya bagi kesehatan juga lingkungan sekitar.

 

Seberapa pentingkah pengolahan TPA bagi lingkungan dan kesehatan dan bagaimanakah pengelolaan di TPA Gunung Tugel? Demikian sekelumit film statement dari salah satu kelompok mahasiswa praktikum tugas kuliah Kapita Selekta yang kali ini secara khusus mengangkat isu penyadaran  masyarakat mengenai kepedulian lingkungan hidup.  Setidaknya terdapat enam film  dihasilkan oleh mahasiswa, dengan tema beragam seputar lingkungan hidup di seputar Banyumas dan sekitarnya yaitu Pemanfaatan  Ruang Terbuka Hijau untuk Dinamisasi Masyarakat, persoalan TPA Gunung Tugel, Pencemaran  Daerah Aliran Sungai (DAS) Kali Biru, penghematan listrik untuk masa depan, revitalisasi Hutan Mangrove,dan isu seputar peremajaan pohon di sepanjang Dr Angka.

Menurut Drs. Ch. Herutomo,M.Si. selaku pengampu mata kuliah Kapita Selekta sengaja tema isu komunikasi dalam kaitannya dengan lingkungan dijadikan fokus kajian karena tema ini dirasakan relevan dengan kebutuhan masyarakat tidak saja di Banyumas sekitarnya namun juga untuk masyarakat di manapun berada.  Selain itu, melalui praktikum  pembuatan film dokumenter bertema lingkungan tidak  hanya  bermanfaat bagi mahasiswa dengan adanya internalisasi nilai-nilai kepedulian lingkungan pada diri mereka namun juga akan menjadi media penerangan bagi masyarakat  tentang pentingnya upaya penyelamatan lingkungan hidup.

Menurut Handoko Irza salah seorang mahasiswa peserta mata kuliah ini, semula “kaget’’ dan  tidak menyangka kalau dalam mata kuliah kapita selekta teryata ada tugas pembuatan film. Namun kemudian justru merasakan  manfaatnya, setidaknya bisa menambah pengalaman  dalam membuat film dokumenter. Selebihnya juga  bisa lebih paham mengenai pembangkit listrik tenaga mikro hydro alternatif sesuai dengan tema yang kelompok dia pilih. “Saya jadi tahu, misalnya masih banyak daerah di Banyumas pasokan listrik  kurang sehingga masyarakat bisa mengolah sumber daya lokal untuk menjadi pembangkit energi alternatif  “, tandasnya.

Menurut rencana film-film  dokumentar yang dihasilkan dalam mata kuliah ini akan dipublikasikan atau disosialisasikan dalam berbagai kesempatan, di antaranya diputar sebagai salah satu sesi dalam kegiatan “CommExpo” mahasiswa Komunikasi  Unsoed yang mengundang kalangan pelajar dan masyarakat pada minggu 17 November mendatang  (tna/her).