Mengupas "Pirate Radio"

Hari Jumat (13/6) minggu kemarin, Himpunan Mahasiswa Komunikasi(HIMAKOM) Unsoed mengadakan  acara Bedah Film Pirates Radio. Siang terik tidak menyurutkan semangat mahasiswa untuk berkumpul diaula FISIP Unsoed. Tak kurang 50 peserta hadir dalam kegiatan itu, yang kebanyakan mereka adalahmahasiswa Ilmu Komunikasi Unsoed

Acara ini mengusung sebuah wacana bagaimana sebuah media bisa dijadikan suatu bentuk budaya tandingan. Untuk menguliti film Pirate Radio, dihadirkan dua pembicara, yakni Tri Nugroho Adi, M. Si, selaku dosen Ilmu Komunikasi Unsoed dan Teguh Priyono selaku praktisi dari Radio Republik Indonesia (RRI) wilayah Purwokerto.

Film yang kali ini dikupas menceritakan latar situasi kebudayaan Inggris di pertengahan tahun 60-an di mana pada waktu itu tumbuh radio “ilegal” yang membawakan tema-tema musik dan juga konten yang tidak dianut oleh media mainstream seperti BBC London. Salah satu radio ilegal yang mengudara melalui frekuensi medium dan dipancarkan dari sebuah kapal  itu mendapat tentangan dari pemerintah dan penguasa setempat karena menyuarakan  rock n’roll yang identik dengan nuansa konten syair yang dianggap “tidak sopan”.

Dalam pengantarnya, Tri Nugroho Adi atau yang kerap disapa PakAdimengutarakan beberapa alternatif perspektif yang bisa dipakai guna  mengupas film tersebut. Misalnya perspektif psikoanalisis, sosiologis, feminis, marxis dan cultural studies.  Sedangkan metode analisisnya bisa menggunakan salah satunya adalah analisis semiotik. Dengan menggunakan perspektif cultural studies, misalnya, akan terkuak bahwa Film Pirates Radio yangdi dalamnyakental dengan nuansa rock and rollini, merupakan sebuah bentuk budaya tandingan  terhadap budaya adilihungInggris yang mapan pada saat itu. Adi pun menegaskan, "Media memang kerap kali dijadikan suatu alat untuk perlawanan, atau dalamterminologi Cultural Studies dikenal sebagai bentuk counter culture”.

Sementara itu, Teguh Priyono  dalam kesempatan itu berbagi pengalamannya sebagai seorang penyiar radio pada peserta bedah film. “Dulu sebelum saya di RRI, saya pernah jadi penyiar juga di radio swasta. Jadi sedikit banyak tahu gimana keadaannya radio yang di film itu,” ungkapnya. “Format program atau konten radio komunitas semacam itu juga harus sesuai dengan apa yang diperjuangkan komunitas itu, sehingga nantinya bagian dari komunitas tersebut merasa terwakilkan dengan adanya radio itu,” jelasnya lagi.

Setelah mendengarkan pemaparan materi atau sharing dari pembicara maka acara pun dilanjutkan diskusi tanya jawab, dilanjutkan dengan pemberian plakat pada kedua pembicara dan ditutup dengan foto bersama dengan para peserta. (AEP/049)